|
Monumen "Sepuluh Perintah Allah" yang selama ini berdiri kokoh di gedung bundar pengadilan tinggi negara bagian Alabama, Amerika Serikat (AS), Rabu lalu (27/8) akhirnya disingkirkan dan dipindahkan ke tempat yang tidak dilihat oleh umum. Pemindahan tersebut diwarnai isak tangis dan teriakan sejumlah pemrotes, "Taruh Lagi!" Demikian pemberitaan harian Sinar Harapan.
Namun pemindahan monumen tersebut harus dilakukan sebagai perintah dari pengadilan federal yang menilai bahwa penempatan monumen tersebut melanggar konstitusi. Berdasarkan konstitusi di "Negeri Paman Sam" tersebut, pemerintah melarang pemasangan atau penempatan suatu fasilitas yang mewakili simbol agama tertentu di tempat umum.
"Ini merupakan hari yang menyedihkan bagi bangsa kita saat fondasi moral hukum kita dan penghargaan dari Tuhan harus disembunyikan dari muka umum untuk menyenangkan seorang hakim federal," kata Roy Moore, yang baru diskors sebagai ketua pengadilan tinggi negara bagian Alabama karena tetap bersikeras mempertahankan keberadaan monumen dari granit seberat 21/2 ton tersebut di gedung bundar pengadilan tersebut.
Kendati telah diskors dari jabatannya, Moore bertekad untuk memperjuangkan secara hukum ke tingkat Mahkamah Agung agar monumen yang diresmikannya dua tahun lalu tersebut dapat ditempatkan kembali.
Para petugas secara hati-hati dan sabar memindahkan monumen tersebut ke suatu ruangan di dalam gedung pengadilan dengan menggunakan peralatan hidrolik. Petugas gedung pengadilan belum menjelaskan di mana persisnya monumen tersebut akan ditempatkan dan apakah masyarakat dapat menyaksikannya kembali.
Hakim Distrik Montgomery, Myron Thompson, tahun lalu memutuskan bahwa pendirian monumen tersebut di tempat umum telah melanggar konstitusi. "Ini merupakan kemenangan gemilang bagi tegaknya hukum dan penghormatan atas keberagaman agama," kata Pendeta Barry Lynn, direktur eksekutif lembaga "Americans United for Separation of Church and State" Rabu lalu (27/8).
"Mungkin Roy Moore akan segera beranjak dari kursinya dan tampil ke mimbar, yang mungkin cocok untuk dirinya," kata Lynn yang menilai Moore lebih cocok sebagai pendeta ketimbang sebagai hakim.
Undang Kontroversi Keberadaan monumen tersebut selama ini mengundang kontroversi, termasuk di kalangan rohaniwan Kristen di AS. Ada yang mendukung pemindahan monumen tersebut, seperti Lynn, demi menghormati keberagaman umat beragama. Namun banyak pula yang bersikukuh untuk mempertahankan monumen tersebut seperti yang dilakukan Moore, yang beralasan bahwa "Sepuluh Perintah Allah" menginspirasikan fondasi hukum bagi rakyat AS. Sedangkan pemerintahan Presiden George W Bush tampaknya memilih bersikap netral.
"Penting bagi kita untuk menghormati hukum dan pengadilan. Dalam beberapa contoh, putusan pengadilan mengenai penempatan (Monumen) Sepuluh Perintah Allah sudah oke. Dalam situasi lain, ada putusan yang menyatakan itu tidak oke. Dalam kasus tersebut selalu ada peluang untuk melakukan banding atas putusan pengadilan," kata juru bicara Gedung Putih, Claire Buchan.
Sedangkan di luar gedung pengadilan tinggi Alabama, para pengunjuk rasa merebahkan diri di depan gedung, bersimpuh mengambil sikap berdoa, dan mengucapkan "Pengakuan Iman Rasuli" dan doa "Bapa Kami".
Sedangkan empat pengunjuk rasa bergandengan tangan sambil berseru, "Taruh kembali!" saat menyaksikan monumen tersebut dipindahkan. "Mereka bisa memindahkannya dari pandangan, namun mereka tidak dapat memindahkannya dari hati kami," kata Rick Moser, seorang pengunjuk rasa berusia 47 tahun dari Woodstock.
Sedangkan pemimpin demo dari lembaga "Christian Defense Coalition", Patrick Mahoney, mengimbau rekan-rekannya untuk bertahan di gedung pengadilan kendati monumen telah dipindahkan sebagai wujud dukungan kepada Kristus dan melawan tiran yudisial.
Sedangkan Moore telah diskors sebagai ketua pengadilan tinggi Alabama karena menolak perintah Thompson untuk memindahkan monumen tersebut. Bahkan Thompson mengancam akan mengenakan denda senilai US$ 5.000 (Rp 42,3 juta) per hari kepada Alabama bila monumen tersebut tetap tidak disingkirkan dari tempat umum.
(source: Gloria Cyber Ministries) |