GPdI PDF Print E-mail
Posted by GPdI-Sejahtera Online Team   
Friday, 28 November 2008 11:45
Th. 1919
Dua pasang suami istreri, Richard Van Klaveren dan Cornelis E. Croesbeek mendapat penglihatan dalam suatu kebaktian di Betle Temple Meeting, di tepi Green Lake, Seatle, Washington, Amerika Serikat. Penglihatan tersebut, bahwasanya mereka diperintahkan Tuhan untuk pergi ke Nedherland Oost Indie (sekarang Indonesia)

4 Januari 1921
Richard Van Klaveren dan Cornelius E.Croesbeek, berangkat dari Amerika menuju Indonesia dengan kapal laut Suamaru, jurusan Yokohama, Osaka, Hongkong, membawa keluarga mereka masing-masing.

Maret 1921
Richard dan Cornelius tiba di Batavia (Jakarta). Langsung menuju Bali melalui Mojokerto, Surabaya, Banyuwangi dengan kapal Varkenboot. Di Pulau Dewata ini mereka kemudian memberitakan Injil selama 21 bulan, karena dilarang oleh pemerintah Belanda. Alasannya, takut merusak kebudayaan Bali.

Desember 1922
Tinggalkan Bali dan kembali ke Batavia / Jakarta. Berkenalan dengan Mrs. Wijnen, yang bercerita bahwa ia mempunyai seorang keponakan di Cepu, Jawa Timur, bernama F.G Van Gessel.

Januari 1923
Richard & Cornelius menuju Cepu. Di sinilah pertama kali kebaktian yang diberi nama Gereja Pantekosta dimulai. Tepatnya di DeterdinkBoulevard Cepu. Oleh pemberitaan Injil Pdt.Richard Van Klaveren dan Pdt. Cornelius E. Croesbeek, keluarga F.G Van Gessel menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Pada Bulan itu, kebaktian sudah dikunjungi 50 Orang.

19 Maret 1923
Berdirinya Vereninging De Pinkstergemeente In Nederlandsch Oost Indie (Gereja Pantekosta di Indonesia-GpdI)

30 Maret 1923
13 orang dibaptis selam di PasrSore Cepu, yang merupakantonggak sejarah Gereja Pantekosta terpancang. Baptisan dilakukan oleh Pdt.Cornelius dan Pdt. J.Thiessen. F.G Van Gessel dan isteri adalah dua dari 13 orang yang dibaptis tersebut. Lainnya adalah S.I.P Lumoindong berserta isteri dan Agust Kops.

30 Juni 1923
Badan tersebut mendapat SK Gubernur Hindia Belanda dengan Badan Hukum No. 2924, 4 Juni 1924 di Cipanas, Jawa Barat.

4 Juni 1937
De Pinkstergemeente diakui sebagai Kerkgenootscap (Badan Greja) dengan Beslit No.33, Staatblad No.368

1942-1946
Terjadi regenerasi kepengurusan yang dipegang oleh putra bangsa.

Ketua : H.N Runkat
Anggota : S.I.P Lumoindong
Anggota : R.M Suprapto
Anggota : R.O Tambunan

24 Juli 1947
Musyawarah Nasional I (Munas I) di Jakarta. Pengurus yang terpilih adalah :

Ketua : H.N. Runkat
Anggota : E. Lessnusa
Anggota : J.D. Syaranamual
Dll.

Majelis Daerah dibentuk.

9-12 Januari 1952
Rapat Majelis Agung di Makassar, membahas perpecahan yang terjadi, karena beberapa pendeta keluar dari Gereja Pantekosta lalu mendirikan organisasi serupa.

1957-1969
Gereja tersebut mengadakan Munas sebanyak 3x, dengan Ketua oleh Pdt. E. Lessnusa yang mempimpim organisasi tersebut selama 3 periode berturut-turut.Setelah itu diadakan lagi 2x Munas dan E. Lessnusa tetap sebagai Ketua.

1970-1976
Terjadi 3x Munas, dengan Ketua adalah Pdt. L.A. Pandelaki, disusul Pdt. W.H. Bolang, memimpin selama dua periode.

Th. 1980
Munas XXIV di Malang Sistem kepemimpinan disesuaikan dengan AD/ART yang telah disempurnakan. Dalam Munas tersebut terpilih sebagai Ketua Umum adalah Pdt.A.H. Mandey.

1980-1995
Terjadi 4x Munas / Mubes, dan Pdt. A.H. Mandey terus terpilih sebagai Ketua Umum hingga hari ini.


Perpecahan di Gereja Pantekosta
Seiring dengan semakin majunya organisasi tersebut, ketidakcocokan di antara pengurus mulai nampak, terbukti dari beberapa pendeta keluar memisahkan diri dari organisasi Gereja Pantekosta.

Beberapa pendeta yang keluar tersebut adalah:

Zs. M.A Alt, keluar tahun 1931 dan mendirikan Pinkster Zending.
Pdt. Thiessen, keluar tahun 1932, mendirikan Pinkster Beweging, yang kini dikenal dengan nama Gereja Gerakan Pantekosta.
Pdt. D. Sinaga, keluar tahun 1941, mendirikan Gereja Pantekosta Sumatera Utara (GPSU)
Pdt. Tan Hok Tjwan, keluar tahun 1946, mendirikan Sing Ling Kau Hwee, yang kini dikenal dengan nama Gereja Isa Almasih (GIA)
Pdt. Renatusa Siburian, keluar tahun 1949 dan mendirikan Gereja Pentakosta Sumatera Utara.
Pdt.T.G Van Gessel, keluar tahun 1952, mendirikan Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS)
Pdt.Ishak Lew, keluar tahun 1959, mendirikan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS)
Pdt. Karel Sianturi & Pdt. Sianipar, keluar tahun 1966, mendirikan Gereja Pantekosta Indonesia Sumatera Utara (GPISU)
Pdt. Korompis, keluar tahun 1966, mendirikan Gereja Pantekosta Indonesia (GPI)
Meski sudah keluar dari organisasi GPdI dan mendirikan organisasi gereja yang baru, namun ternyata organisasi tersebut banyak yang maju dan bekembang, bahkan juga sudah membuka cabangnya diseluruh Indonesia. Namun dari organisasi gereja yang baru ini, tidak sedikit juga yang keluar, kemudian mendirikan lagi gereja baru.

Hamba Tuhan lain yang belakangan keluar dari GPdI adalah Pdt. Hoo Liong Seng (H.L Senduk) yang kemudian mendirikan gereja Bethel Indonesia (GBI) dan Pdt. Jacob Nahuway, kini gembala GBI Mawar Saron, Jakarta.

Lahirnya Dewan Pantekosta Indonesia (DPI)

Perpecahan demi perpecahan terjadi, namun tetap beafiliasi pada satu nama yaitu Pantekosta, sehingga timbul inisiatif untuk menyatukan untuk menyatukan kembali sikap dan pandangan gereja-gereja beraliran Pantekosta.Akhirnya berdirilah Dewan Kerjasama Gereja-gereja Kristen Pantekosta Seluruh Indonesia (DKGKPSI) dan Persekutuan Pantekosta Indonesia (PPI).

Tetapi pada tanggal 10 September 1979, dua organisasi gabungan gereja-gereja Pantekosta, DKGKPSI dan PPI tersebut membubarkan diri, kemudian bergabung menjadi satu wadah dengan nama Dewan Pantekosta Indonesia.

Musyawarah Besar I (Mubes I) DPI diadakan tahun 1984, terpilih sebagai Ketua Umum adalah Pdt. W.H Bolang.

Mubes II Dewan Pantekosta Indonesia tanggal 15-17-1984 di Bandung, terpilih sebagai Ketua Umum Pdt. A.H Mandey.

Mubes III di Caringin, Bogor, terpilih Ketua Umum DPI adalah Pdt. M.D Wakkary. Hamba Tuhan dari Medan ini akan memimpin DPI sampai tahun 1998.

Sinode gereja yang tergabung dalam DPI ini berjumlah 58 sinode/organisasi gereja beraliran Pantekosta, diantaranya adalah gereja-gereja yang keluar dari GPdI tersebut.

(source: Majalah Penginjilan Indonesia "Kabar Baik" No. 13 Th-III Oktober-November 1996)

 

Add comment


Security code
Refresh

User Login


Polling

Berapa kali dalam seminggu Anda ke gereja?
 

Flag Counter

free counters

Who is online

We have 9 guests online

jConnector