| Dilema Ibu Bekerja |
|
|
|
| Posted by GPdI-Sejahtera Online Team |
| Tuesday, 15 May 2001 07:00 |
|
Dilema yang sering dialami ibu bekerja pada umumnya relatif sama. Di rumah ia ingin menjadi ibu sekaligus istri yang baik, yang memenuhi semua kebutuhan termasuk kebutuhan spiritual dan emosional anak. Dalam waktu bersamaan, ia ingin kariernya di kantor terus menanjak, dan mencapai kesuksesan seperti yang didambakan setiap orang bekerja. Namun sayang begitu banyak kendala muncul dalam memanajemen waktu atau dalam membagi perhatian serta memenuhi kebutuhan suami, anak, dan diri sendiri secara adil dan menguntungkan semua pihak. Dilema seperti di atas terjadi karena para wanita bekerja masih sering mengkonotasikan bekerja dengan kantor. Pekerjaan di rumah jarang dihitung dan dianggap kurang penting. Padahal pekerjaan di rumah tidak lebih mudah. Demikian diungkap oleh Dra. Eileen Rachman, direktur Experd, perusahaan yang bergerak di bidang sumber daya manusia. Untuk mengatasinya, Eileen berpendapat bahwa kita perlu menyamakan dulu pola pandang dan pendekatan terhadap tugas rumah ataupun kantor, dengan tetap menempatkan anak sebagai prioritas utama. Soraya Haque, selebritis pemilik sekaligus pengelola Soraya Haque Modelling School juga mengatakan bahwa seorang ibu yang bekerja sudah seharusnya memiliki rasa cinta akan pekerjaan, agar semangat ibu tetap tinggi menghadapi berbagai kendala. Soraya menekankan agar para ibu bekerja tetap akrab dan dekat dengan anak serta berupaya semaksimal mungkin mengurangi ketergantungan anak pada satu pembantu atau baby-sitter saja. Selain kedua tokoh di atas, Dr. Mari Elka Pangestu, juga mengaku sering mengalami saat tegang manakala pekerjaannya begitu menyita waktu sehingga suaminya kurang bahagia, anak-anak terpengaruh, dan ia sendiri merasa bersalah. Ia juga sering mengalami benturan konflik antara tanggung jawab sebagai ibu dan komitmen sebagai ahli. Misalnya, pernah saat ia berangkat ke luar negeri, ternyata anaknya sakit panas. Dari situ Mari menemukan tiga hikmah utama: Pertama, sebagai ibu, wanita bekerja mesti realistis, dan tidak bermimpi menjadi super woman. Kedua, jangan merasa bersalah dengan keputusan menjadi ibu bekerja. Ketiga, memberlakukan peran ganda bukan hanya untuk ibu tetapi juga untuk ayah. Akhirnya, para wanita bekerja mesti selalu memprioritaskan kesehatan dan kesejahteraan anak serta keluarga. Dukungan suami dan anggota keluarga yang lain tentu akan sangat bermanfaat. Berdiskusilah secara terbuka dengan suami agar menemukan trik-trik baru dalam bekerja sama membangun keluarga yang bahagia. (source: Gloria Cyber Media) |


