| Ibu Harus Janji |
|
|
|
| Posted by GPdI-Sejahtera Online Team |
| Wednesday, 25 September 2002 13:38 |
|
"Ibu sedang apa?” tanya anak bungsu saya saat saya termenung di depan kertas kuning sambil menggigit penghapus, karena bingung untuk menuliskan janji-janji yang ingin saya penuhi di Tahun Baru. “Sedang mencari ide cemerlang,” jawab saya. Jeremy berdiri di samping saya dengan senyum lebar di pipi kecilnya yang gemuk, sambil menebarkan aroma segar sehabis mandi. “Mungkin Ibu hanya perlu ide-ide yang sederhana dulu,” jawab Jeremy. Saat saya menatap matanya yang biru, saya berpikir bagaimana ia dapat bersikap begitu bijaksana. Ya, cukup bijaksana untuk menyadari bahwa mungkin saya telah berpikir terlalu tinggi sehingga tidak mendapatkan apa-apa. Mungkin juga karena ia melihat perjuangan Bill dan saya setiap hari untuk menjadi ibu dan ayah super. “Maukah kamu membantu Ibu menuliskan Janji Tahun Baru?” pinta saya, “tapi ganti dulu handuk basahmu dengan piyama.” “Baik,” jawabnya sambil mengeringkan tubuhnya dan berlari. Sekilas saya melihat tubuh kecilnya yang sempurna, yang mengingatkan saya untuk menuliskan janji klasik saya pada urutan pertama: “Saya akan berolahraga dengan teratur.” Itulah satu-satunya janji yang selalu muncul dalam benak saya setiap tahun, namun kemudian segera saya lupakan. “Apa itu janji Tahun Baru?” tanya Jeremy ketika sudah menyusul saya di meja dapur dengan secarik kertas. Ia mengenakan piyama yang basah karena tergesa-gesa, sementara rambutnya belum disisir sehingga berdiri semua seperti tanaman pakis di depan jendela. “Ibu akan berusaha memenuhi daftar janji yang akan dibuat ini, mulai awal Tahun Baru... supaya Ibu dapat menjadi... ibu yang lebih baik.” “Dan membuat Ayah menjadi ayah yang lebih baik,” tambah suami saya sambil mencari-cari kue coklat di dapur yang selalu saya sembunyikan untuknya, seperti permintaannya. Saya yakin janji Bill yang pertama ditulis dalam daftar pasti juga olahraga. Saya melihat betapa cepatnya anak saya menulis, sehingga saya menjadi ingin tahu, apa yang ia anggap perlu untuk saya perbaiki. “Coba Ibu baca,” ia mengulurkan daftar itu. “Lebih baik Ibu mendengarkan saja. Bacalah, Nak.” “Ayah juga boleh mendengarkan, bukan?” Bill pun duduk di situ sambil membawa segelas susu sementara ia belum menemukan kue coklatnya. Apakah ia menginginkan saran Jeremy juga? Apakah ia ingin melihat seberapa jauh saya belum mampu memenuhi pengharapan anak kami? Atau ia hanya ingin tahu di mana saya menyembunyikan kue coklatnya? Saat Jeremy mulai membaca, saya ingat sebuah ungkapan dari Mark Twain: “Anda tidak dapat mengandalkan pandangan Anda sendiri bila pikiran Anda tidak objektif.” Dan, saya rasa pandangan Jeremy jelas-jelas objektif. Daftar Ibu :
“Sudah saatnya kau tidur, manis.” Saya memeluk putra saya, sambil berharap ia tidak melihat airmata terima kasih saya. Anak ini masih begitu muda namun ia sudah dapat melihat hal-hal yang penting. Saat ia berlari menuju kamar tidurnya, Bill dan saya segera menghapus janji pertama kami tentang olahraga. Dan, dengan segera kami menuliskan semua ide penting yang dikemukakan putra kecil kami. “Dan ada satu hal untuk Ayah,” teriaknya saat menuruni tangga. “Ayah mendengarmu, Nak.” “Bagi-bagi dengan saya dong, kue coklat yang selalu disembunyikan Ibu di garasi.” Saya yakin airmata menggenang di mata Bill juga, karenanya ia buru-buru keluar. (source: EBJ Wanita/Mary Bahr Fritts | Gloria Cyber Media) |


