Memandang Keatas PDF Print E-mail
Posted by GPdI-Sejahtera Online Team   
Wednesday, 04 June 2003 13:36
Salah satu nasihat istri yang selalu saya simpan di hati adalah, "Jangan suka memandang ke atas." Kita bisa membuat tafsiran panjang lebar tentang kalimat pendek itu. Memandang ke atas bisa berarti sombong. Orang sombong suka memandang ke atas kalau berjalan. Ia suka mendongakkan kepala. Sikap itu diperlihatkan karena ia memandang orang lain lebih rendah.

Sombong merupakan salah satu ciri manusia. Menurut Aristoteles, sombong itu tidak etis karena ia ada di pinggir atau di ujung dari kehidupan. Sesuatu yang berada di ujung atau di pinggir itu tidak etis, entah ia di pinggir atau di ujung kiri atau entah ia di ujung kanan. Bagi Aristoteles, sombong itu tidak etis, tetapi juga rendah diri itu tidak etis. Yang etis ialah kalau orang bisa bangga tanpa harus menjadi sombong atau menjadi inferior.

Memandang ke atas bisa juga berarti putus asa. Orang yang suka membandingkan diri dengan orang lain yang di atasnya memang bisa membuat orang itu tak pernah puas dengan dirinya. Ia akan selalu merasa serbakekurangan, merasa serba kalah dan karena itu ia tidak bisa tenang, tidak bisa berterima kasih, tidak bisa bersyukur. Orang yang selalu memandang kelebihan orang lain akan cenderung melihat dirinya semakin kecil, semakin tak berdaya dan akhirnya putus asa. Banyak orang lebih suka menerima nasib karena selalu membandingkan kehebatan orang lain dengan keserbakurangan pada dirinya. Sikap ini ada di ujung lain dari dua ujung kehidupan menurut Aristoteles.

Cemburu
Memandang ke atas bisa juga berarti cemburu. Seseorang suka membandingkan dirinya dengan orang lain yang di atasnya. Ia menjadi iri hati karena melihat bahwa orang lain selalu lebih baik, atau lebih hebat atau lebih kaya. Keadaan orang yang demikian bisa lebih buruk lagi. Ia bisa berpikiran jahat terhadap sesamanya. Ia bisa bersikap 'sirik' dengan merusak sesama yang dicemburui.

Konon masih ada orang suka pakai jasa dukun merusak kesehatan seorang rekan kerja yang punya posisi lebih baik dan yang diincar oleh si pencemburu. Tindakan korupsi mungkin bisa dikategorikan sebagai tindakan orang-orang cemburu. Tak tahan melihat kekayaan orang lain yang memang berusaha sehingga kaya, maka ia menempuh jalan pintas untuk menyamai kekayaan orang itu. Orang yang suka korupsi pastilah juga orang yang suka memandang ke atas, ngiler dengan kekayaan orang lain.

Memandang ke atas bisa juga berarti bingung. Orang yang suka memandang ke atas adalah orang yang tak punya arah atau tujuan dalam hidup. Kebanyakan manusia yang kesepian suka memandang ke langit. Juga orang yang bingung tak tahu harus berbuat apa menjadi orang yang suka memandang ke atas, ke awan, ke langit tak berujung. Kepada kehampaan dan kekosongan atau keketiadaan. Manusia tanpa visi tak suka melihat sesuatu yang menantang. Ia mau memandang kepada sesuatu yang kosong. Banyak anak muda yang mengonsumsi narkoba bertujuan untuk fly into the sky? Memandang ke langit tanpa kesediaan menerima tantangan dalam kehidupan.

Ketika murid-murid Tuhan Yesus menyaksikan Sang Guru naik ke sorga, malaikat menegur mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapa kamu berdiri melihat ke langit?" (Kisah Para Rasul 1:10-11). Bisa jadi murid-murid itu terpesona dengan peristiwa kenaikan Yesus ke sorga. Memandang kepada Tuhan karena kagum dan terpesona tentu saja terpuji. Tetapi bisa juga bahwa murid-murid itu hanya bingung saja dan karena itu ditegur oleh malaikat supaya jangan hanya memandang ke atas.

Memandang kepada Tuhan sebagai sikap percaya sangat baik. Tetapi Tuhan tidak menghendaki manusia hanya memandang kepada Dia. Bahkan Tuhan tidak pernah bersedia dilihat kesucian-Nya oleh manusia. Orang Israel hanya diperkenankan memandang Tuhan dalam bentuk awan dan api (Keluaran 19) dan Nabi Musa hanya diperkenankan mengintip punggung Tuhan dalam sekejap mata (Keluaran 33:21-23).

Memandang ke atas, kepada Tuhan untuk memohon berkat-Nya adalah kewajiban manusia. Tetapi Tuhan mengutus kita untuk tidak hanya memandang ke atas, melainkan juga memandang ke sekeliling kita. Kita terpanggil untuk memandang kepada lingkungan kita. Kita perlu melihat dengan jelas dunia kita secara seimbang. Kita perlu memperhatikan sesama kita dalam keberadaan mereka yang nyata, dalam kekurangan dan kelebihan mereka.

Mengenal Diri
John Calvin pernah berkata: "dengan memandang kepada Tuhan, kita akan mengenal sesama kita dan diri kita sendiri". Tetapi itu tidak berarti bahwa kita hanya harus terus memandang ke atas. Maksud Calvin adalah supaya dengan percaya kepada Tuhan, kita suka mengenal diri kita, kita suka tahu diri. Dan dengan mengenal Tuhan kita mengasihi sesama kita dan lingkungan hidup kita.

Akhir-akhir ini pandangan manusia mungkin lebih banyak tertuju pada pekerjaannya sendiri daripada kepada sekelilingnya. Tiap hari kita menatap komputer kita selama berjam-jam. Seorang rekan saya di Belanda pernah mengatakan, banyak orang terpaku dengan jadwal di agendanya masing-masing. Tak ada waktu dan ruang bagi sesama bahkan bagi anggota keluargapun walau hanya sekejap.

Peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke surga yang dirayakan umat Kristiani di seluruh dunia hari Kamis 29 Mei 2003, mengingatkan kita akan pengutusan ke dalam dunia: "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi" (Kisah Para Rasul 1:8). Kita diutus untuk menjadi saksi-Nya di dunia. Maka kita harus memandang kepada sesama kita.

Kalau kita merasa lemah dan tak berdaya, Tuhan Yesus berjanji memberikan kita kekuatan. Kata yang diterjemahkan dengan kuasa dalam teks Kisah Para Rasul 1:8 disebut dunamis dalam bahasa Yunani yang berarti kekuatan atau enersi. Jadi Tuhan akan memberikan kekuatan kepada kita untuk menjadi saksinya di dunia. Kita bisa menjadi saksi yang baik mengenai kebaikan Tuhan kalau kita suka memperhatikan keberadaan sesama kita. Kalau kita peka dan peduli pada sesama. Jadi janganlah selalu suka memandang ke atas, tetapi pandanglah sekeliling dan lihatlah pergumulan sesama dan selalulah bergumul bersama mereka dan bersama Tuhan, membawa kebaikan bagi sesama dan bagi dunia. Selamat merayakan Hari kenaikan Tuhan Yesus ke Surga!

(source: Gloria Cyber Ministries)

 

Add comment


Security code
Refresh

User Login


Polling

Berapa kali dalam seminggu Anda ke gereja?
 

Flag Counter

free counters

Who is online

We have 26 guests and 1 member online

jConnector