|
Posted by GPdI-Sejahtera Online Team
|
|
Wednesday, 10 November 2004 16:28 |
|
Seorang ibu muda menelepon salah seorang konselor kami suatu siang. Ia menyatakan kebingungannya antara terus bekerja karena kariernya cukup baik dan menjaga puteranya yang baru lahir beberapa bulan yang lalu.
|
|
|
Bagian Tubuh Yang Terpenting |
|
|
|
|
Posted by GPdI-Sejahtera Online Team
|
|
Wednesday, 10 November 2004 07:00 |
|
Ibuku selalu bertanya padaku apa bagian tubuh yang paling penting. Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar. Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia, jadi aku jawab, "Telinga, Bu." Jawabnya, "Bukan. Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya dan aku menanyakanmu lagi nanti."
|
|
Posted by GPdI-Sejahtera Online Team
|
|
Wednesday, 04 June 2003 13:36 |
Salah satu nasihat istri yang selalu saya simpan di hati adalah, "Jangan suka memandang ke atas." Kita bisa membuat tafsiran panjang lebar tentang kalimat pendek itu. Memandang ke atas bisa berarti sombong. Orang sombong suka memandang ke atas kalau berjalan. Ia suka mendongakkan kepala. Sikap itu diperlihatkan karena ia memandang orang lain lebih rendah. Sombong merupakan salah satu ciri manusia. Menurut Aristoteles, sombong itu tidak etis karena ia ada di pinggir atau di ujung dari kehidupan. Sesuatu yang berada di ujung atau di pinggir itu tidak etis, entah ia di pinggir atau di ujung kiri atau entah ia di ujung kanan. Bagi Aristoteles, sombong itu tidak etis, tetapi juga rendah diri itu tidak etis. Yang etis ialah kalau orang bisa bangga tanpa harus menjadi sombong atau menjadi inferior.
|
|
|
Posted by GPdI-Sejahtera Online Team
|
|
Wednesday, 25 September 2002 13:38 |
"Ibu sedang apa?” tanya anak bungsu saya saat saya termenung di depan kertas kuning sambil menggigit penghapus, karena bingung untuk menuliskan janji-janji yang ingin saya penuhi di Tahun Baru. “Sedang mencari ide cemerlang,” jawab saya. Jeremy berdiri di samping saya dengan senyum lebar di pipi kecilnya yang gemuk, sambil menebarkan aroma segar sehabis mandi. “Mungkin Ibu hanya perlu ide-ide yang sederhana dulu,” jawab Jeremy.
|
|
Kalau Ibu Tak Berdoa, Siapa Lagi? |
|
|
|
|
Posted by GPdI-Sejahtera Online Team
|
|
Wednesday, 25 September 2002 13:37 |
Tidak semua ibu berdoa untuk anak-anaknya, tetapi tentu saja bukan karena mereka tidak sayang, tetapi karena mereka tidak tahu bagaimana berdoa dan mempercayakan segala persoalan sehari-hari kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan yang setia membimbing para ibu. Barangsiapa menerima Kristus sebagai Juruselamat, juga pasti menerima Roh Allah yang membangkitkan dorongan dalam dirinya untuk berdoa bagi orang-orang yang dikasihi. Dalam doa itu orang tersebut dapat memohonkan agar orang-orang yang dikasihinya diberi hikmat, pertolongan, dan perlindungan.
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>
|
|
Page 1 of 2 |