Home Articles Testimonials Taat KepadaNya Membawa Berkat
Taat KepadaNya Membawa Berkat PDF Print E-mail
Posted by GPdI-Sejahtera Online Team   
Friday, 09 November 2001 14:41
Beberapa tahun yang lalu saya harus pergi membayar rekening listrik sendiri karena tidak ada yang sempat untuk membayarnya. Hari itu hari Sabtu dan karena mobil dipakai oleh suami dan juga anak saya jadi saya pergi dengan kendaraan umum (bis).

Dalam perjalanan saya melihat ada plang Panti Wreda Melania dan sekonyong-konyong saya teringat wajah seorang opa yang sering kali membagi-bagikan traktat di gereja saya (atas inisiatif pribadi). Saya tidak mengenalnya tetapi saya pernah menanyakan dimana dia tinggal dan dia menyebutkan nama panti wreda yang baru saya lewati itu. Sepanjang perjalanan mukanya terbayang dan Roh Tuhan menggerakkan saya untuk mampir menemui Opa tersebut. Jadi sewaktu dalam perjalanan pulang, saya berniat untuk mampir dan herannya saya cari2 tempatnya tetapi tidak ketemu (sudah lewat) akhirnya saya langsung pulang.

Sesampainya saya dirumah, saya langsung berdoa karena hati saya tidak sejahtera. Dan sewaktu saya berdoa, sangat keras dorongan agar saya kembali lagi mencari panti wreda tersebut. Terus terang saya sangat malas sekali karena udara sangat panas (sudah siang) dan saya harus pergi naik kendaraan umum. Tetapi saya tidak mau menyesal jadi saya lawan perasaan saya dan kembali siap2 untuk pergi dan saya digerakkan untuk membawa uang untuk dipersembahkan kepada opa itu dan juga untuk membeli biskuit kaleng (Khong Guan).

Saya berangkat lagi dengan naik bis dan Tuhan memberi hikmat kepada saya untuk mengatakan kepada kenek bis untuk berhenti di panti wreda dan sopir memberhentikan saya di depan panti wreda tersebut.

Hati saya berdebar karena terus terang saya tidak tahu nama Opa tersebut. Jadi sewaktu saya minta ijin bertemu saya katakan terus terang saya ingin bertemu dengan seorang opa tapi tidak tahu namanya. Mereka menanyakan ciri2nya dan sewaktu saya sebutkan mereka bilang yang gituan sih banyak disini (saya jadi malu tapi saya lawan perasaan saya) lalu Tuhan ingatkan untuk memberitahukan bahwa opa itumasuk digereja saya (saya sebutkan nama gereja saya).

Dan mereka bilang coba saja masuk kamar yang itu (sambil menunjuk satu kamar dengan jarinya). Puji Tuhan sewaktu saya masuk kamar tersebut, benar opa itu yang saya ingat dan dia sedang membaca alkitab.

Dia bingung melihat saya karena tidak mengenal saya. Saya katakan saya dari gereja dimana dia membagi-bagikan traktat dan dia tertawa dan mengatakan Puji Tuhan lalu dia menangis. Saya terharu dan rasanya saya juga ingin menangis, tetapi luar biasa Tuhan menguatkan saya dan setelah saya mendapatkan kekuatan, saya menanyakan Opa ingat2 apa? Dia katakan sebenarnya dia sedang tidak enak badan dan dia bertanya kepada Tuhan, "mengapa Tuhan tidak ada yang datang mengunjungi saya? Saya kesepian Tuhan tetapi tidak ada yang memperdulikan saya". Dia katakan dia sebenarnya orang Belanda dan hidup di Indonesia sendirian tanpa sanak keluarga. Dia pensiun dari RS PGI Cikini dan sekarang katanya saya sendirian disini. Tapi saya bersyukur bahwa ternyata Tuhan itu mendengarkan doa saya. DIA mengirimkan kamu datang mengunjungi saya. Puji Tuhan! Setelah puas dia bercerita (kami seperti sudah kenal lama) saya tanya apa yang dia baca dan dia bacakan firman Tuhan kepada saya. Setelah itu saya berdoa bagi dia dan setelah itu saya katakan Opa, saya tidak kenal Opa dan saya datang karena digerakkan oleh Tuhan. Tuhan sudah siapkan ini (saya berikan uang dan Khong Guan) untuk Opa. Dan sekali lagi dia menangis dan memeluk saya. Saya katakan saya akan kembali lagi dan saya akan beritahukan gereja agar mereka bisa mengunjungi Opa (karena biasanya gereja ada jadwal kunjungannya).

Didalam perjalanan pulang, saya terus bersyukur kepada Tuhan karena mau taat kepada perintahNYA. Saya bayangkan seandainya tadi saya lebih mengikuti perasaan saya dan tidak jadi mencari/mengunjungi dia maka tentunya saya tidak mendapatkan berkat ini. Belum pernah saya sebahagia ini, dimana saya merasa Tuhan mau memakai saya untuk mengunjungi orang yang memang sedang menantikan/membutuhkan seseorang yang tidak kunjung datang (kesepian).

Setelah saya laporkan ke gereja, mereka mengunjungi Opa itu. Tapi saya begitu sedih setelah mereka mengatakan bahwa mereka sudah kesana tetapi Opa itu sudah dipanggil oleh Tuhan dua hari yang lalu.

Hati saya menangis mendengarnya tetapi satu hal yang saya dapat dari hal ini yaitu bila Tuhan menggerakkan hati kita, segera kerjakan dan jangan tunda2 karena kita akan menyesal dan kehilangan berkatNYA bila terlambat. Saya bersyukur saya tidak mengikuti perasaan saya dan mau mendengarkan suaraNYA sehingga tidak terlambat. Saya membayangkan kalau seandainya saat itu saya lebih mementingkan diri saya karena sudah lelah dan harus naik bis dan tidak jadi pergi -- tentu saya akan kehilangan berkat dan seseorang yang sangat kesepian akan tetap kesepian diakhir hidupnya.

Berkat yang saya dapat dalam hal ini yaitu Tuhan tidak pernah meninggalkan anakNYA. Dia mendengarkan jeritan hati kita dan akan menggerakkan hati siapa saja yang mau membuka hatinya untuk dipakai oleh Tuhan untuk menjawab doa seseorang. Maukah kita dipakai olehNYA untuk menjawab doa orang lain? Semoga kesaksian ini boleh menjadi berkat.

Segala puji hanya bagi DIA yang senantiasa menjawab doa kita. Halleluya!

Sylvia

(source: Yahya Kurniawan | e-mail)

 

Add comment


Security code
Refresh

User Login


Polling

Berapa kali dalam seminggu Anda ke gereja?
 

Flag Counter

free counters

Who is online

We have 28 guests online

jConnector