| Dari Kematian Kepada Kehidupan |
|
|
|
| Posted by GPdI-Sejahtera Online Team |
| Wednesday, 21 April 2004 14:54 |
|
Ketika seorang anak kecil meninggal dunia, orang merasa sayang. “Ia terlalu kecil untuk mati, belum apa-apa.” Ketika seorang bapak tiga anak yang masih kecil meninggal dunia, orang juga merasa sayang, “Bagaimana dengan keluarga yang ditinggalkan?” Begitukah juga dengan orang tua? Sastrawan Andre Malraux melukiskan berharganya usia tua dengan cara demikian, “Bukan sembilan bulan untuk membentuk seorang manusia, tetapi lima puluh tahun yang terdiri dari pengorbanan, keputusan, dan banyak hal lainnya. Dan ketika manusia sudah menjadi orang, ketika tiada lagi sifat kanak-kanaknya, ketika ia benar-benar dewasa, satu-satunya yang baik untuknya ialah kematian” (Man’s Estate, 318). Memang sayang, ketika orang sudah terlatih dalam berbagai persoalan hidup, betul-betul matang, berwibawa, arif, akhirnya maut juga meniadakan semuanya itu dengan alasan “sudah tua.” Kematian baik pada anak kecil maupun orangtua tidak cuma mengakhiri hidup, namun juga membuat hidup seperti sia-sia dijalani: menghancurkan kemampuan dan bakat gemilang, memaksa selesai hubungan antarpribadi yang manis, menutup pintu masa depan, seolah-olah sia-sia semua pengorbanan yang dilakukan dengan susah payah. Absurd! Itu sebabnya meski diakui sebagai bagian hidup yang tak dapat ditolak, kematian tidak diterima dengan gembira. Di tepi jurang kematian orang gamang, takut-takut cemas, tidak tahu apa yang ada di balik gelapnya kematian. Wafat Yesus Yesus Kristus juga mati namun kematian-Nya tidak sia-sia seperti kebanyakan orang, melainkan mempunyai arti yang menentukan hidup kita. Wafat-Nya menjadi kejadian historik yang selalu diperingati. Kematian Kristus memperlihatkan dengan nyata kasih Tuhan. “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8). Yesus wafat bukan karena kesalahan sendiri, bukan karena fanatik membela agama, bukan dalam pertarungan melawan pemerintah, bukan dalam pertikaian antarsuku, juga bukan karena usia tua. Ia wafat untuk kita orang berdosa, obyek yang tak layak memperoleh kasih-Nya (Rm. 5:6-10). Ketika kita masih lemah, tidak berdaya, tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong diri sendiri, Yesus wafat untuk kita. Bukan ketika kuat! Ketika kita masih berdosa, melakukan satu dosa ke dosa lain, Yesus wafat untuk kita. Bukan ketika kita sedang melakukan kebenaran! Ketika kita masih memusuhi Tuhan, Yesus wafat untuk kita. Bukan ketika kita dalam keadaan baik dengan Tuhan. “Sebab tidak muda seorang mau mati untuk orang yang benar tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati” (Rm. 6:7). Yesus wafat untuk kita bukan karena kita orang benar atau pun orang baik. Apa beda antara orang benar dan orang baik? Orang baik kebaikannya dapat dinikmati orang lain dan untuk itu ia tdak perlu menjadi orang benar. Seorang koruptor dapat menjadi orang baik dengan mendermakan hartanya untuk fakir miskin. Untuk orang yang terbukti berguna bagi orang lain, masih ada yang mau membela bahkan sampai mempertaruhkan nyawanya sendiri. Lain dengan orang benar yang tidak serta-merta memberi manfaat langsung kepada orang lain. Ada orang yang jujur, bersih karakter, kerja diam-diam dengan setia tidak menarik perhatian orang lain. Namun, karena manfaatnya tak langsung dialami, mungkin tidak ada orang yang mau mati berkorban untuknya. Di hadapan Tuhan, kita bukan orang baik. Yang Mahakuasa tak pernah merasa berhutang kebaikan kepada kita. Di hadapan Tuhan, kita juga bukan orang benar. Bukankah segala kesalehan kita digambarkan seperti kain kotor (Yes. 64:6). Orang baik, bukan. Orang benar, juga bukan. Lalu dengan alasan apa kita dikasihi? Bila orang saja segan mati untuk sesamanya, apa bedanya Tuhan yang begitu tinggi wafat untuk manusia? “Apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mzm. 8:5). Alasan itu pasti tidak pada diri kita. Itu harus pada diri Tuhan. Dalam kasih-Nya yang penuh dengan rahasia. Jarang orang sungguh-sungguh mau berkorban untuk orang lain dengan tulus tanpa pamrih, hanya demi kebaikan yang ditolong. Sebenarnya, ketika cawan yang berisi murka Allah disodorkan di hadapan-Nya, Yesus bisa saja menolaknya. Namun ternyata Yesus dengan rela tanpa di bawah tekanan apa pun menerima cawan itu dan meminumnya demi ketaatan kepada kehendak Bapa. Karya Penebusan Pemberontakan dan dosa-dosa kita layak membuat Allah yang adil menjatuhkan hukuman. Namun hukuman itu sekarang diambil alih Yesus lewat kematian-Nya supaya kita diperdamaikan dengan Allah. Inilah penebusan dosa. Apa arti kematian Yesus menebus dosa kita? Dalam kehidupan sehari-hari setiap pelanggaran dan kesalahan melibatkan dua pihak: pihak pelanggar yang berbuat salah dan pihak yang dilanggar. Dari pelanggaran itu biasanya timbul kerugian yang harus diganti. Andaikan suatu hari saya mengendarai mobil dan entah bagaimana masuk ke pekarangan orang dengan merusak pagar dan tanamannya. Saya tidak bisa begitu saja pergi sebab timbul kerugian. Bagaimana perkara ini bisa beres? Kerugian itu harus diganti. Saya membayar kerugian yang diderita. Kerugian pemilik rumah dipulihkan lewat pembayaran itu. Namun ada cara lain saya bebas dari membayar kerugian itu, yaitu kalau saya dimaafkan. Saya diizinkan pergi tanpa membayar sepeser pun. Namun, kerugiannya tetap ada. Hanya sekarang bukan saya yang menanggung kerugian itu melainkan pemilik rumah itu sendiri. Demikian juga penebusan yang dilakukan Kristus. Akibat dari pelanggaran dosa kita selalu timbul kerugian di mata Tuhan. Pengampunan tidak membuat kerugian itu menjadi tidak ada. Hanya, yang menanggung kerugian itu sekarang bukan kita orang berdoa, melainkan Tuhan sebagai pihak yang dirugikan. Kita berdosa melawan Allah, merugikan-Nya. Dalam keadilan-Nya kita dituntut ganti rugi. Namun Yesus membayar lunas semuanya itu lewat wafat-Nya yang menebus dosa kita. Yesus menanggung beban kerugian itu di bahu-Nya. Begitu besarnya dosa-dosa kita, sehingga derita sengsara-Nya juga sangat hebat. Menjelang disalibkan, kondisi fisik dan mental Yesus sangat lemah. Semalam-malaman Ia tidak tidur, dibawa ke sana kemari, diadili, diludahi, dipukuli. Masih belum cukup. Sebuah mahkota duri ditancapkan di atas kepala-Nya. Ia diarak melewati lorong-lorong Yerusalem sambil memikul batang kayu yang berat (via dolorosa). Setibanya di bukit Golgota yang sering dilalui orang, Ia dibaringkan di atas kayu, lengan dipaku dan darah segar mengalir. Lalu kayu salib itu didirikan perlahan-lahan dan berat tubuh Yesus membuat luka di tangan-Nya sobek semakin besar. Akhirnya, kayu salib berdiri tegak dan di situ Anak Allah mengerang berjuang melawan rasa sakit. Dan ia menjadi tontonan yang mengerikan dari orang yang hilir mudik di jalan itu. Prajurit-prajurit yang menjaga di sekitar salib biasanya tidak tahan menyaksikan pemandangan yang ngeri itu, sehingga untuk menghilangkan rasa ngerinya mereka menenggak minuman keras (Luk. 23:36). Orang yang disalib biasanya tidak langsung mati, bisa sampai seminggu baru mati. Namun mentalnya sudah hancur lebih dulu dan dalam kesakitan, orang yang disalib biasanya akan mencaci maki dan mengucapkan sumpah serapah. Yesus baru enam jam sudah tidak tahan. Mengapa Yesus mengalami semua penderitaan itu dan rela menerima hukuman yang paling kejam pada zaman Kerajaan Romawi yang biasanya hanya untuk penjahat yang benar-benar terkutuk? Dosa-dosa kitalah. Kebangkitan Yesus Yesus Kristus wafat demi kita, demi kematian yang sia-sia dan tanpa makna. Namun tidak berhenti di situ. Yesus bangkit dari kematian, sekaligus membuktikan ada kebangkitan orang mati. “Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan” (I Korintus 15:13). Manusia dengan berbagai cara ingin mengabdikan diri mulai dari bentuk-bentuk simbolik (foto, karya seni, prestasi) sampai yang sebenarnya (pembalsaman jasad, mumi). Namun, kepastian hidup sesudah mati tak terjamin. Orang mati dan tidak bangkit lagi. Itulah pengalaman universal di mana-mana dan ini membuat harapan manusia untuk hidup sesu-dah mati tanpa fondasi kepercayaan yang kokoh. Maka, ada orang yang tak mau berspekulasi dengan hidup sesudah mati dan lebih baik bersenang-senang menjauhkan diri dari semua itu. Hukum alam mengatakan bahwa manusia hidup untuk mati. Sein zum Tode (Heidegger), menguasai sejarah manusia. Tetapi, tiba-tiba ada penyimpangan. Yesus mati dan dikuburkan, namun bangkit dan tidak mati lagi. Yesus mematahkan hukum alam yang membuat hidup selalu berakhir pada kematian. Yesus hidup untuk hidup! Inilah jaminan kepastian kebangkitan orang Kristen. Kebangkitan Kristus yang historis sekaligus historik itu menjadi inti pengharapan Kristen. Bertolak belakang dari tuduhan sebagian orang bahwa agama cuma menawarkan harapan-harapan kosong dan membuat penganutnya lari dari dunia nyata (eskapisme), bagi orang Kristen hidup sesudah mati sangat pasti. Menjadi orang yang lahir baru di dalam Kristus yang bangkit artinya memiliki “hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di surga” ((I Pet. 1:3). Karena itu, setelah dibebaskan dari kematian yang sia-sia, hidup menjadi sangat bermakna untuk dijalani. Kematian bukan kata akhir untuk hidup. Kalau hidup hanya berakhir pada kematian, maka apa-apa yang baik yang dikerjakan selama hidup, akan menjadi sia-sia. Tapi kalau hidup terus berlangsung sekalipun melewati gerbang maut, iman dan amal saleh yang tulus akan terus terbawa masuk ke dalam kekekalan. Dalam perspektif kebangkitan, cara kita melewati hidup menjadi penting. Kita tidak bisa seenaknya hidup. C.S. Lewis pernah berkata, sejarah mencatat bahwa orang yang paling banyak memikirkan dunia akherat justru aling banyak berbuat di dunia nyata (A Mere Christianity 116-119). Yang benar-benar baik akan tetap bernilai baik sampai dunia sana. Maka, kebangkitan memotivasi orang Kristen untuk mengamalkan imannya sekuat tenaga. Mungkin kita sudah berkorban terlalu banyak dalam mengikut Tuhan. Korban tenaga, korban waktu, korban harta, bahkan korban perasaan. “Kenapa harus saya terus, bukan orang lain?” Memang kita bisa berkorban terlalu banyak untuk orang lain, namun tidak akan pernah terlalu banyak untuk Dia yang mengorbankan segala-galanya bagi kita. Kematian menyelesaikan hidup di dunia dan kebangkitan meneruskan apa yang sudah dibuat selama hidup. Dalam kesadaran inilah seharusnya kita hidup dengan arif tidak asal-asalan, mengusahakan yang betul-betul bernilai dalam hidup yang fana. Dan ketika Anda membaca ini, kesempatan masih ada untuk membenahi hidup yang belum lurus dan belum jernih. * Penulis adalah rohaniwan yang tinggal di Serukam, Kalbar; dosen filsafat-teologi; alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara dan Calvin Theological Seminary, sedang dalam program doktoral di Evangleische Theolgische Fakulteit, Heverlee-Leuven. (source: Bahana Magazine) |


