| Ketika Mengampuni Terasa Mustahil |
|
|
|
| Posted by GPdI Sejahtera Online Team |
| Wednesday, 04 February 2009 16:15 |
|
Guys, dulu menurut saya, itu perkataan bodoh! Bodoh bin dungu. Saya bisa sebutkan lusinan ayat Alkitab yang memerintahkan bahwa kita harus mengampuni. Tapi guys, ketika saya sendiri disakiti, kata mengampuni itu seperti monster buat saya. Saya bukannya tidak tau bahwa saya harus mengampuni, saya bisa sebutkan dampak-dampak yang akan terjadi kalo saya menolak mengampuni, tapi saya tetap ragu untuk memilih langkah untuk mengampuni. Kenapa? Karena mengampuni itu menyakitkan. Kita manusia itu agak aneh, entah kenapa kita suka mengingat-ingat luka-luka, suka sekali mengorek-ngorek “kesalahan” yang diperbuat orang laen kepada kita. Dan jujur, saya menikmati saat-saat saya mengorek-ngorek kesalahan yang diperbuat org laen kepada saya. Seolah-olah dengan begitu saya menghukum dia, padahal sebenernya saya lah yg berada di bawah hukuman karena saya menolak untuk mengampuni.
Itu kenyataan guys, kita lebih mudah mengampuni kesalahan orang tidak dikenal, daripada mengampuni kesalahan sahabat sendiri, kesalahan roommate, housemate, dan yang paling sulit adalah mengampuni kesalahan keluarga sendiri. Kesalahan Papa, Mama, adik atau kakak. Kenapa? Karena kita selalu berpikir bahwa mereka yang paling dekat dengan kita SEMESTINYA tidak menyakiti kita. Maaf guys, tapi itu khayalan yang terlalu jauh. :) Orang yang paling mungkin menyakiti kita JUSTRU orang yang dekat dengan kita. Ngga heran kalo Amsal bilang, “Saudara yang dikhianati lebih sulit dihampiri daripada kota yang kuat” Amsal 18:19. Karena itu Guys, jagalah hati saudara dan sahabatmu baik-baik. Karena betul, sekali kau disakiti oleh orang yang dekat denganmu, butuh kerendahan hati yang luar biasa untuk memulihkan hubungan. Pagi itu saya saat teduh, dan saya memutuskan untuk bergumul soal pengampunan. Saya baca Purpose Driven Life. Karena seingat saya, dulu Rick Warren pernah bilang mengampuni itu otomatis TAPI memperoleh kepercayaan kembali itu butuh waktu *seingat saya*. Guys, mau tau apa alasan saya cari kalimat itu? Saya mau membenarkan diri saya. Saya mau cari excuses. Ok, Tuhan, gue ampuni dia, but I don’t want to be her friend anymore. I want to keep a distance between us. Mau tau apa yang disediakan Tuhan buat saya guys? “Relationships are always worth restoring.” Itu kata-kata yang pertama saya baca. Saya mau mencari pembenaran tapi Tuhan malah menelanjangi saya. Saya merasa ada duri yang menusuk di hati saya. Tuhan please… Saya baca bab tentang Restoring Broken Fellowship. Dan saya mengeluh, Tuhan ini terlalu sulit. Gue ngga tau harus mulai darimana. Ketika saya bergumul, tiba-tiba Roh Kudus mengingatkan saya ayat dari 2 Korintus 5:18. “Dan semuanya itu dari Allah yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.” “When someone gives you a hard time, respond with the energies of prayer, for then you are working out of your true selves, your God-created selves. Live out your God-created identity, Live generously and graciously toward others, the way God lives toward you” Matthew 5:43-48. “Nik, hiduplah murah hati dengan orang lain, seperti Tuhan sudah murah hati sama kamu. Kasihi orang laen seperti Tuhan sudah mengasihi kamu, apa yang Tuhan lakukan buat kamu, Nik?” Banyak. Tuhan mengampuni dosaku, ngga pernah ungkit-ungkit lagi. Tuhan ngga marah sehabis aku ngaku dosa. Tuhan tetep sayang sama aku sekalipun aku berdosa. Tuhan kasih yang terbaik buat aku, Tuhan perhatiin semua kebutuhanku. Bahkan ketika aku marah sama Tuhan pun, Tuhan tetep sabar dan sayang ama aku. “Lakukan itu buat orang lain. Kasihi mereka seperti Tuhan mengasihi kamu.” source: Grace Suryani | Gloria Cyber Ministry |



Guys, tidak ada kata-kata, TIDAK BISA mengampuni. Yang ada hanya MENOLAK untuk mengampuni. Kenapa kita menolak? Saya tidak tahu kenapa orang laen menolak untuk mengampuni, tapi saya tau kenapa saya menolak untuk mengampuni. Saya merasa bahwa apa yang dilakukan oleh orang itu sudah terlalu parah, sudah tidak bisa diperbaiki. Dan saya sudah MALES. Sudah lah, lupakan saja. Ditambah lagi karena orang itu adalah orang yang dulu pernah dekat sama saya, maka saya kuadratkan kesalahannya.