Alkitab Kuno? PDF Print E-mail
Posted by GPdI-Sejahtera Online Team   
Friday, 05 May 2006 14:56

Dalam dunia EXACTA, nama Sir Isaac Newton bukanlah nama yang asing. Dia dikenal dan diakui sebagai ilmuwan terbesar sepanjang masa. Ketika Anda sedang mempelajari Hukum gaya berat, Hukum gerak, Kalkulus, Teleskop pantul dan optika, semuanya itu tidak bisa dipisahkan dari nama Sir Isaac Newton yang lebih dikenal dengan sebutan Isaac Newton. Ketika orang sedang sibuk membicarakan temuan-temuan yang hebat dari Newton, rasanya ada sesuatu yang kurang dari ketokohanya. Apakah itu? Mungkin sebagian orang berpikir bahwa Newton adalah seorang atheis. Seorang yang mengabaikan Tuhan dalam hidupnya. Saya juga pernah berpikir demikian.

Benarkah dia atheis?

Banyak orang yang belum mengerti iman Sir Isaac Newton, sepintas Anda mungkin akan berkomentar bahwa dia seorang yang tidak mempedulikan Tuhan. Tetapi tahukah Anda bahwa Sir Isaac Newton ilmuwan yang cinta Tuhan dan takluk di bawah otoritas Alkitab sebagai Firman Allah yang berkuasa. Bahkan dia adalah anak tiri dari seorang pendeta.
Dalam buku yang berjudul “Isaac Newton- Inventor, Scientist and teacher”, karangan J.H. Tinner, dengan jujur diceritakan tentang kehidupan iman yang sungguh luar biasa dari Sir Isaac Newton. Dua minggu sebelum Sir Isaac Newton lahir, tepatnya pada Natal 1642, ibunya terpaksa harus menjadi janda karena suaminya meninggal dunia. Sia Isaac Newton lahir dengan tidak pernah bertatap muka secara langsung dengan ayahnya. Dengan kematian sang suami, kemudian ibunya menikah lagi dengan seorang pendeta dari desa North Witham dekat tempat tinggal mereka. Hal yang menarik dalam diri Newton adalah sejak kecil telah membiasakan diri untuk mempelajari Alkitab secara teratur setiap hari, saat teduh secara pribadi dilakukannya dengan teratur. Sehingga tidaklah mengherankan apabila pengetahuannya tentang Alkitab begitu dalam dan membuat orang-orang di sekelilingnya terheran-heran. Apalagi setelah ibunya menikah dengan seorang pendeta gereja Anglikan, menambah frekuensinya untuk membaca Alkitab semakin meningkat. Di perpustakaan pribadi ayah tirinya, dengan lahap dia membaca buku-buku rohani dan Alkitab yang tersedia di sana.

Mengapa dia begitu tertarik membaca Alkitab dan hidup sesuai Alkitab ?

“Saya sangat percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah, yang ditulis oleh orang-orang yang memperoleh wahyu, sehingga saya mempelajarinya setiap hari”, demikian tulisnya.
Ketika Newton masih berusian 14 tahun, ayah tirinya meninggal dunia. Hal tersebut tentu sangat berat baginya, sebab dalam keluarga Newton anak sulung yang harus memikirkan dan bertanggung jawab untuk kebutuhan keluarga, yakni ibu dan tiga orang adik tirinya.

Sehubungan dengan kematian ayahnya, sekolah di King’s College akhirnya terganggu, dia terpaksa tidak dapat meneruskan sekolah karena tidak punya biaya. Keluarga Newton hidup di bawah garis kemiskinan. Menurut keterangan guru dan teman-teman sekolahnya di sekolah, Newton terkenal pintar dan baik. Gurunya melihat bahwa di dalam diri Newton tersimpan potensi yang luar biasa, pemikiran dan pendapat-pendapatnya yang brilian. Lalu apa mau dikata, memang demikianlah kondisi keluarganya.

Mempertimbangkan kondisi seperti itu, akhirnya King’s College memutuskan untuk membebaskannya dari biaya sekolah. Akhirnya Newton kembali lagi ke sekolah dan belajar sebagaimana teman-temannya yang lain.

Kepintarannya sungguh luar biasa di sekolah tersebut, membuat guru dan teman-temannya kagum kepadanya. Setelah tamat, Newton melanjutkan pendidikannya di Trinity College, di Cambridge University, dengan cita-cita ingin menjadi pendeta Inggeris. Lalu apakah sekolahnya berjalan mulus ? Lagi-lagi Newton mengalami kendala masalah biaya kuliah dan kemiskinan. Akhirnya Newton harus putus kuliah. Dia tidak punya biaya untuk meneruskan studinya.

Masalah-masalah yang dihadapi ternyata tidak mengurungkan niat sucinya untuk terus membaca dan mempelajari Alkitab dengan ketat dan penuh kedisiplinan. Mengenai ujian yang tidak kunjung berhenti dari kehidupannya, dia berkata : “Ujian atau pencobaan adalah obat yang diberikan oleh Dokter kita yang Mahamurah dan Arif, karena kita memang memerlukannya dan Dia sendiri yang menjatahkan seberapa sering dan seberapa berat pencobaan itu, sesuai kebutuhan kita. Mari kita mempercayai kepiawaianNya dan berterima kasih untuk resep yang diberikan”.

Newton juga sangat menentang para atheis dan pahamnya yang berkembang dengan pesat pada saat itu. Paham tersebut berusaha meyakinkan orang untuk menyangkal eksistensi Allah sebagai Pencipta. Dia berpendapat “Atheisme sangat tidak masuk akal. Ketika saya mengamati tatasurya, saya melihat bumi berada pada jarak yang ideal dari matahari, sehingga menerima panas dan cahaya dalam jumlah yang ideal pula. Ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan”.

Bagi Newton para atheis adalah orang-orang bodoh yang sedang mendatangkan murka atas dirinya sendiri. Kalau kita mengamati tatasurya, cukup menjadi jawaban bagi kita untuk memuji keagungan dan kehebatanNya. Setelah perang saudara di Inggris selesai, Newton kembali melanjutkan pendidikannya untuk mendapatkan gelar sarjana. Sambil kuliah, Newton terus melakukan penelitian. Yang menarik adalah ketika Newton sedang menyelidiki gerakan planet, dengan jelas dia merasakan bimbingan tangan Tuhan. Dia menulis “Sistem matahari, planet dan komet yang begitu indah, hanya bisa berasal dari pemikiran dan kekudusan suatu hakekat yang cerdas… hakekat ini menguasai semua hal… Tuhan dari semuanya”.

Newton tidak hanya mencintai dan membaca Alkitab dengan teliti dan teratur, tetapi dia juga telah menyumbangkan hasil pemikirannya dengan menulis buku yang berbobot, serta memiliki nilai teologis yang tinggi. Buku ini berjudul : “Chronology Of Ancient Kingdoms dan Observations upon the prophecies of Daniel”. Buku yang menarik tersebut adalahh ucapan terimakasihnya kepada Tuhan atas segala penyertaanNya yang luarbiasa, sebagaimana Newton mengaku “semua temuan saya adalah jawaban atas doa saya”.

Sir Isaac Newton, ternyata meninggalkan keteladanan iman yang sungguh bernilai kepada para ilmuwan dan intelektual Kristen yang hidup pada masanya dan masa kini. Dengan tujuan supaya kita tidak menjadi ilmuwan dan intelektual Kristen penkhianat Allah. Dalam kehidupannya Sir Isaac Newton telah menanamkan keyakinan bahwa kecintaan kepada Tuhan adalah modal awal di masa seseorang akan menerima inspirasi-inspirasi segar yang bersumber dari pribadi Allah sendiri. Allah adalah pencipta segala ide dan Dia jugalah yang akan membimbing manusia untuk mengerti pribadiNya yang Agung, Mulia dan tak terselami.


Bahan Pembanding:

Ann lamont, Para Ilmuwan Mempercayai Ilahi. (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/ OMF), 1997, dan J.H. Tiner. Isaac Newton-Inventor, Scientist and Teacher. (Michigan: Mott Media, Milford), 1995

(source: Gloria Cyber Ministries)

 

Comments  

 
0 #1 iskak 2010-08-09 22:11
Luar biasa dan ajaiblah TUHAN Pencipta langit dan bumi,

saya mau meneladani Isaac Newton, sekalipun aku bukan orang pandai dan jauh dari brilian,

paling tidak semuanya yang aku alami karena kemurahan dan anugrah Tuhan yang luar biasa.
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

User Login


Polling

Berapa kali dalam seminggu Anda ke gereja?
 

Flag Counter

free counters

Who is online

We have 27 guests and 1 member online

jConnector